Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTN-BH) kembali menyelenggarakan Sidang Paripurna tahun 2025 di Universitas Indonesia pada tanggal 18-20 September 2025. Forum strategis ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan akademik guna memperkuat pengembangan PTN-BH dalam meningkatkan mutu akademik dan pendidikan tinggi nasional, serta menghadapi tantangan global. Sidang Paripurna ini mengusung tema “Peran PTN-BH dalam Optimalisasi Ekosistem Pendidikan, Riset, dan Inovasi menuju Ketahanan Nasional”.
Indonesia saat ini berada dalam periode bonus demografi , namun masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai status negara maju, yang ditargetkan memiliki pendapatan per kapita sebesar USD 15.000 per tahun. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia masih berada di angka USD 5.000. Salah satu hambatan utama adalah perlunya peningkatan penguasaan teknologi hingga 12 kali lipat dari kondisi saat ini. Sebagai lembaga yang diberikan otonomi untuk mengelola sumber daya secara mandiri , PTN-BH memegang peran sentral sebagai normatif tertinggi dalam penetapan kebijakan akademik untuk menanggapi tantangan ini. PTN-BH diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan, sekaligus pilar ketahanan bangsa.
Isi Laporan dan Rekomendasi Strategis
Ringkasan hasil Sidang Paripurna MSA PTN-BH 2025 menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang berfokus pada penguatan ekosistem pendidikan, riset, dan inovasi:
1. Optimalisasi Sumber Daya Manusia dan Bonus Demografi
Indonesia telah memasuki periode bonus demografi sejak tahun 2012, namun momentum ini tidak akan berlangsung lama. Untuk mengoptimalkannya, PTN-BH didorong untuk menyusun program percepatan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menjawab kebutuhan industri dan pembangunan nasional. Data menunjukkan bahwa proporsi mahasiswa didominasi bidang ilmu sosial dan manajemen (61%), sementara bidang yang menjadi pendorong perkembangan negara, yaitu teknologi, hanya 12%. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan nasional dan strategi internal PTN-BH untuk meningkatkan proporsi mahasiswa di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, Matematika, dan Kedokteran (STEMM).
2. Penguatan Riset Terfokus dan Hilirisasi
Riset di PTN-BH dituntut menghasilkan dampak nyata bagi ketahanan nasional. Fokus riset harus diselaraskan dengan agenda pembangunan nasional dalam RPJPN 2025-2045 dan RPJMN 2025-2029. PTN-BH perlu memfokuskan riset unggulan pada 8 industri strategis nasional (pangan, energi, kesehatan, pertahanan, hilirisasi, digitalisasi, pertanian, dan industri kreatif) yang telah ditetapkan pada tahun 2022-2024. Tujuannya adalah agar hasil riset dapat diterapkan menjadi produk nyata yang berdaya saing global dan diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
3. Kolaborasi Industri dan Insentif Riset
Kolaborasi yang kuat antara PTN-BH dan industri besar sangat krusial, mencontoh keberhasilan negara lain yang melahirkan industri besar dari riset kampus. Untuk mendorong hal ini, Pemerintah perlu mempertimbangkan insentif fiskal, seperti tax holiday, bagi mitra industri yang berinvestasi dalam riset bersama perguruan tinggi. Peningkatan Gross Domestic Expenditure on Research and Development (GERD) juga menjadi target, yaitu ditingkatkan menjadi 2,2% dari PDB, dengan diversifikasi pendanaan yang melibatkan sektor swasta dan industri, mengingat GERD Indonesia pada tahun 2020 hanya 0,28% dan sebagian besar berasal dari pemerintah. Selain itu, alokasi dana riset juga perlu didorong untuk honor peneliti, dan aturan yang melarang pemberian honor bagi dosen harus ditinjau kembali guna memperkuat ekosistem riset.
4. Transformasi Tata Kelola dan Pembelajaran
PTN-BH dituntut memiliki tata kelola yang responsif, akuntabel, dan adaptif terhadap perubahan global. Transformasi juga mencakup kurikulum yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri, dengan mengintegrasikan kurikulum formal yang mendorong creative thinking dan critical thinking dengan kurikulum informal seperti magang dan kesempatan global (go global). Best practices dari PTN-BH terdepan (UI, IPB, UGM) dan universitas global (NUS, Universiti Malaya) menekankan penguatan ekosistem kewirausahaan di kampus, pengembangan kurikulum multidisiplin, internasionalisasi riset, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses.
Contohnya, UGM menekankan penelitian sebagai core yang terintegrasi dalam tridharma dan pengembangan Science Techno Park (STP). IPB mengembangkan konsep techno-socio entrepreneurial university yang memadukan technopreneurship dan sociopreneurship. Sementara UI fokus pada hilirisasi riset (melalui UI Start-Up) dan optimalisasi aset sebagai sumber pendanaan non-UKT.
Kesimpulan
Sidang Paripurna MSA PTN-BH 2025 menyimpulkan bahwa Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum bukan sekadar persoalan otonomi kelembagaan semata, tetapi menuntut adanya upaya strategis yang komprehensif. PTN-BH harus bertransformasi menjadi pusat keunggulan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Dengan mengimplementasikan strategi komprehensif ini—mulai dari percepatan pengembangan SDM STEMM , fokus riset strategis pada 8 industri nasional , peningkatan GERD melalui insentif fiskal dan kolaborasi industri , hingga transformasi tata kelola yang adaptif dan akuntabel —PTN-BH diharapkan dapat menjadi pilar ketahanan bangsa dan secara nyata berkontribusi mewujudkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2040 atau sebelum tahun 2045



